ikeyuliamartha

Solitaire: A Sunday Night Music Class

Posted by: ikeyuliamartha on: November 3, 2009

[martha]

more on: uncluster.com

angsa&serigala2

“Support your local artist and pay them right!!!”

Kira-kira begitulah slogan yang diusung oleh acara musik satu ini. Konsep yang tergolong unik, mengingat penikmat musik di Indonesia sudah terbiasa mendatangi event musik dengan harga tiket yang sudah ditentukan, atau malah yang gratisan. Namun di acara ini para pengunjung dipersilahkan membayar tiket masuk sesuai dengan keinginan mereka.

Sekilas tak ada yang berbeda dengan pemandangan Kongkow Cafe malam itu. Seperti hari biasa, cafe yang terletak di Jalan Diponegoro No.21 Bandung ini tetap ramai, atau bahkan lebih ramai. Bedanya, pengunjung yang datang pada hari Minggu (05/04) malam itu tidak untuk sekedar duduk-duduk santai sambil menikmati sajian khas cafe itu atau hanya sekedar bercengkrama saja, tapi mereka datang untuk menyaksikan aksi sejumlah musisi yang menjadi bintang tamu di acara yang bertajuk “Solitaire: A Sunday Night Music Class”, di antaranya ada Tika, Angsa dan Serigala, Kishy dan Tigapagi. Sementara Ansaphone didaulat sebagai pembuka acara yang dimulai pukul 19.00 itu.

Melihat settingan tempat dimana penonton dibiarkan duduk “lesehan” dengan jarak panggung yang tidak terlalu jauh, mengesankan bahwa acara ini sengaja dibuat seakrab mungkin. Alunan musik halus dari Kishy yang mampu menghadirkan nuansa gloomy ditambah visual performance yang mendukung, ampuh membuat penonton sejenak terdiam dan melayang dengan pikirannya masing-masing. Setelah tiga lagu disajikan, saatnya lampu panggung kembali dinyalakan, dan Kishy pun harus menyudahi penampilan. Kini giliran Tika yang menggebrak panggung dan menghadirkan suasana yang sama sekali berbeda. Dalam penampilannya malam itu, penyanyi jazz asal Jakarta ini juga sekaligus membocorkan rencananya untuk merilis album kedua dalam waktu dekat. Malam itu Tika beraksi dengan memboyong bandnya untuk membawakan empat lagu, dimana salah satunya adalah lagu daerah Banyuwangi berjudul “Genjer-Genjer”. Di sela penampilannya, Tika juga menyampaikan apresiasinya terhadap acara ini. Dengan konsep ini menurut Tika, akan diketahui seberapa besar penghargaan penikmat musik di Indonesia terhadap para musisi lokal.

Usai sudah Tika dan bandnya beraksi, kini di atas stage sudah ada tiga pemuda bergitar yang siap memberikan hiburan tak kalah menarik. Bagi pencinta pop akustik, kehadiran Tigapagi tentunya begitu dinanti-nantikan, tak terkecuali malam ini. Menikmati musik mereka tanpa sadar membuat kepala bergoyang pelan mengikuti irama yang ringan dan renyah. Tak berbeda dengan Tika, trio asal Bandung ini juga sempat melontarkan rasa senangnya karena bisa berpartisipasi di acara ini. Sigit, sang vokalis sempat melontarkan candaan saat salah satu penonton mengaku mengeluarkan lima ribu rupiah untuk membayar tiket masuk.

“Uang yang dibayar buat tiket masuk itu nantinya buat bayaran kita-kita yang main lho… Hm, kalau lima ribu, ya lumayanlah buat beli kerupuk,” selorohnya yang disambut tawa penonton.

Penampilan Tigapagi malam itu relatif singkat dari para penampil lainnya. Setelah tiga lagu dibawakan, dimana dua di antaranya adalah lagu terbaru, mereka pun menyudahi penampilannya.

Tapi malam itu belum berakhir. Penonton masih setia duduk dan menunggu penampil berikutnya yang akan menutup acara malam itu. Tak lama menunggu, segerombolan anak muda tanpa basa basi menyerbu panggung, mereka menamakan dirinya Angsa dan Serigala. Bisa dibilang tak hanya jumlah mereka yang membuat panggung meriah, tapi musik dari berbagai instrument yang  dimainkan juga tak kalah meriah. Bahkan empat lagu riuh yang mereka bawakan rasanya tak terlalu pas jika dinikmati sembari duduk-duduk saja. Pukul 22.10, lagu “Manusia” akhirnya menutup penampilan Angsa dan Serigala sekaligus membubarkan penonton dengan tertib. Raut puas di wajah penonton seolah menjadi gambaran kesuksesan So-Lo Society selaku penyelenggara acara ini.

“Ya tadi cukup banyak yang memberikan selamat. Mereka bilang acaranya bagus,” ujar Dewi Irma dari So-Lo Society.

Ketika ditanya mengenai bayaran tiket tertinggi, ia mengungkapkan bayaran tertinggi dari pengunjung Rp.30.000,- dan bayaran terendah Rp.2.500,-

“Hasil yang diperoleh akan dibagi 50%-50% dengan musisi yang malam ini tampil,” jelasnya.
***

tigapagi2
“Support your local artist and pay them right!!!”

That was slogan for this music event. A unique concept actually, considering the music lovers in Indonesia were already used to visit a certain-price-ticket show, even the free-ticket show. But in this event, the visitors were pleased to pay the ticket as their wish.

There are no differences at glance in Kongkow Café that night. Like usual, this café which placed on Jalan Diponegoro No.21, Bandung still has many visitors, or maybe more crowded than before. But in fact, the visitors came on Sunday night (04/05) not only for sit down and enjoy the meals, or just have some conversations with friends, but they came for a show that featuring several musicians, the show named “Solitaire: A Sunday Night Music Class”. The guests were Tika, Angsa dan Serigala, Kishy and Tigapagi. Meanwhile Ansaphone was an opening act in that show which was began on 07.00 p.m.

From the venue, where the audiences could sat on the floor, and small space between stage and the audiences, as if the organizer intentionally want to make an intimate show. The delicate music from Kishiy that supported by visual performance, suddenly created a gloomy atmosphere, apparently the audiences drowned by their own mind. After three songs, the stage light was turned back on, and Kishy finished their performance. And it’s time for Tika who kicked the stage off with totally different music. Tika also unveiled her plan for the second album. She brought her band to play four songs, one of them was a folk song from Banyuwangi called “Genjer-Genjer”. In the spare of her show, Tika said that she really appreciate the show. According to her, by this concept we would know the appreciation of music lovers toward the local musicians.

Afterward, there were three men accompanied by guitars on the stage. Absolutely the acoustic pop lovers always waiting for this trio,  Tigapagi. Enjoying their music, unconsciously made we shook our head followed the melodious cadence. As well Tika, this based Bandung trio giving their appreciation. Sigit (vocalist) also made a joke, when one of the audience confessed that he only paid five thousands for the ticket.

“The money you had been paid, would become our fee. Um, so if you paid for five thousands I think it would be enough for my snack,” he joked then followed by the audiences’ laugh.

Their performance ended shortly. After three songs, including two new track, they ended it up.

But the night was not over yet. The audiences still on the floor, waiting the next performer who would close the night. Soon after, several youths coming. Yes, Angsa dan Serigala was on the stage. Not only because of their huge number that made the stage became noise, but their instruments also. I think that would not be appropriate if their four noise songs being enjoyed while sitting down only. Finally, at 10.10 p.m. the song called “Manusia” finally closed their performance and all at once dispersed the audiences. Peoples really satisfied that night. As well as the organizer.

“Yeah a lot peoples just congratulated me. They said, the show was great,” Dewi Irma from So-Lo Society.

When being asked about the ticket price, she revealed that highest price was Rp.30.000,- and Rp.2.500,- as the lowest.

“The money would be divided on 50%-50% with the musicians,” she said.