Sejak beberapa hari lalu wall Facebook saya dihiasi foto Tulip kuning, kiriman dari seorang teman. Cantik sekali. More Tulip from Berlin, begitu judul album fotonya. Sejenak saya membayangkan indahnya warna warni bunga ini, apalagi kabarnya akhir Maret hingga Mei menjadi waktu yang pas menikmati Tulip di Belanda.
Lalu saya ingat obrolan dengan seorang teman yang bercerita bahwa dari bunga ini saja Belanda memeroleh pemasukan yang sangat besar. Menarik, karena tak hanya jadi sumber devisa, Tulipa yang konon berasal dari Turki ini malah jadi simbol negara ini.
Meski sudah dibudidayakan oleh masyarakat Turki sejak tahun 1000, masa jaya Tulip baru dimulai lebih dari 600 tahun kemudian. Belanda dengan iklim laut (yang di musim panas saja suhunya dingin) seolah ‘berjodoh’ dengan Tulip. Meski luas wilayahnya hanya 41.526 km persegi (seperempat Pulau Jawa) tapi dengan perlakuan yang ‘layak’ dari manusianya, seperti sistim pengairan yang tepat (Belanda dikenal ahlinya di bidang ini) dan efisiensi lahan membuat Tulip berkembang pesat di sini.
Beberapa tahun sejak masuknya, Tulip kemudian tak lagi sekedar bunga yang dikagumi keindahannya tapi juga menjadi komoditi. Bahkan, perdagangan Tulip sempat mengguncang Belanda. Tumbuhnya jenis Tulip langka yang diakibatkan oleh virus mozaik membuat banyak orang bersaing ketat mencari Tulip jenis ini dan membayar mahal. Perdagangan Tulip bahkan sampai masuk dalam bursa saham. Meski pada 1637 harga Tulip jatuh, hebatnya ini tidak menghentikan masyarakat Belanda untuk terus membudidayakannya hingga memiliki lebih dari seratus spesies Tulip.
Belanda kemudian menjelma sebagai surga bunga lewat Festival Bunga yang diadakan tiap tahun. Bahkan tak hanya Tulip, jenis bunga lain pun ikut dipamerkan di ajang ini. Adalah Keukenhoff, taman jutaan bunga yang hingga kini menarik wisatawan domestik dan asing datang ke Belanda. Selain bunga, hasil pertanian lain juga turut mengantarkan Belanda sebagai salah satu pengekspor ketiga terbesar di dunia
.
Dari sini terlihat betapa Belanda pintar memanfaatkan potensi yang ada dengan segala kekurangan; lahan yang sempit hingga iklim tidak menguntungkan untuk jenis bunga tertentu maupun hasil pertanian lainnya. Rumah kaca berperan besar dalam hal ini dengan menyumbangkan 70% (atau lebih) hasil produksinya untuk ekspor dunia. Dan demi menjaga ritme produksi ini, Belanda terus mencari solusi agar industri ini tidak ‘terganggu’ oleh masalah dampak lingkungan, di antaranya memperkenalkan penggunaan rumah kaca yang menyimpan panas saat musim panas, untuk digunakan pada musim dingin, dengan cara mengubah panas menjadi listrik sehingga industri bunga/pertanian Belanda bisa menghasilkan produk ramah lingkungan.
Sekelumit cerita ini membuat saya makin yakin bahwa kemajuan dan kesejahteraan tidak ditentukan oleh kondisi yang sudah ada, tapi bagaimana manusia menyikapi kondisi tersebut. Artinya setiap negara memiliki potensi untuk maju, menjadi yang terbaik. Tak masalah dengan kekurangan yang ada, selama manusianya cerdas dan memiliki cara pandang yang memajukan dan menyejahterakan, menjadi yang terbaik bukanlah mimpi. Dan semuanya lahir dari pendidikan yang berkualitas.
Belanda buktinya. Pendidikan menjadi indikator kedua tertinggi pada Indeks Pembangunan Manusia-nya. Jadi jelas pendidikan punya peran penting di negara ini. Tak terkecuali dalam bidang pertanian.

Semoga negara lain di dunia memiliki kisah ‘Tulip’ nya sendiri.
Referensi:
wikipedia
liputan6.com
id.shvoong.com
mapsofworld.com